Saturday, October 11, 2014

Pulang ke Rumah yang Pertama

Akhirnya aku bangun pagi lagi. Kegiatan yang udah jarang kali kulakukan. Pukul delapan kereta api dari stasiun Gambir akan membawaku bertolak ke Jogja. Setelah berkemas, pukul tujuh aku tiba di stasiun.

Tak butuh waktu lama, aku sudah berada di peron menunggu kereta. Aku ke Jogja untuk memenuhi permintaan mengisi sebuah show stand up comedy di Universitas Ahmad Dahlan. Acaranya sendiri berlangsung Minggu pagi. Aku sengaja berangkat lebih awal, supaya bisa menyempatkan diri bertemu dengan adek perempuanku yang sekarang sedang kuliah di Jogja.

Sambil menyelam minum air. Sekarang, aku selalu ingin diundang mengisi acara di Jogja. Selain bekerja, aku bisa bernostalgia bersama kota yang udah mendidikku selama lima tahun, sekaligus menyempatkan bertemu adekku yang jelek itu.

Tanggal 27 Oktober besok, aku juga punya agenda promosi buku ke Cirebon. Aku senang kali dengan rencana kerja ini, karena sekalian bisa ketemu sama adek laki-laki yang sedang menuntut ilmu di sana.

Pertengahan tahun ini memang kedua adekku serentak memasuki jenjang perguruan tinggi. Mereka merantau ke kota yang berbeda. Satu ke Jogja, satu ke Cirebon. Sementara aku pindah kota perantauan dari Jogja ke Jakarta. Aku senang, sekarang aku punya keluarga yang bisa kukunjungi dengan lebih “mudah”.

Duduk menunggu sendirian membuatku menerawang jauh. Tiba-tiba aku berpikir soal Bapak dan Mamak. Sekarang, mereka kembali ke masa awal pacaran, kemana-mana berdua. Kakakku udah menikah dan tinggal bersama suaminya di Medan. Aku dan kedua adekku merantau ke Pulau Jawa. Nggak bisa kubayangkan bagaimana sepinya rumah tanpa kami anak-anaknya. Bukan cuma satu, kini keempat anaknya tak lagi bisa dengan mudah ditemui.

Aku senang melihat kami anak-anak Bapak dan Mamak merantau mengejar cita-cita. Aku senang melihat kami yang beranjak dewasa, mulai menata hidup dan mengurangi beban-beban yang selama ini digantungkan pada mereka. Di lain sisi, aku sedih membayangkan rumah yang sunyi dari suara-suara pemberontakan kami anak-anaknya. Aku sedih kami harus melihat Bapak dan Mamak menua dari jauh. Aku sedih karena kami nggak bisa berjuang dari tempat yang sama.


Di masa tuanya, di mana fisik mulai melemah, justru nggak ada anak yang membantu Bapak dan Mamak sekedar untuk menyiapkan makan malam. Nggak ada anak yang bisa diteriaki dari kamar mandi sewaktu Bapak dan Mamak lupa bawa handuk. Nggak ada anak yang bisa diajak ngobrol tentang betapa mahalnya harga cabai dan tentang betapa busuknya politisi yang ditayangkan berita tivi. Nggak ada anak yang menertawakan mereka karena pergi ke dapur, tapi lupa hendak berbuat apa. Nggak ada lagi tangan yang dekat, nggak ada lagu telinga yang mendengar dan nggak ada lagi mulut yang menjawab.

Kuliat jam tanganku. Kereta datang masih setengah jam lagi. Aku kembali dalam lika-liku pemikiranku. Hidup adalah perkara waktu. Waktu harus terus berjalan. Walau terlihat menyedihkan, tapi kami anak-anak Bapak dan Mamak berada di trek yang benar. Meninggalkan sarang untuk petualangan yang lebih menantang dan penuh pelajaran. Mengaplikasikan bekal yang diajarkan di rumah dan berjuang di arena pertarungan.

Tapi jika diminta jujur, sesekali aku ingin pulang ke masa silam. Masa di mana keluargaku masih berkumpul di bawah satu atap. Masa di mana hiruk-pikuk dan hingar-bingar anak-anak Bapak dan Mamak setiap hari mengganggu mereka. Masa di mana aku menghajar adekku karena nggak bisa disuruh. Masa di mana aku ditempeleng Bapak dan dicubit Mamak karena semena-mena kepada adek. Aku ingin rebutan remot tivi lagi. Aku ingin rebutan kamar mandi di pagi hari mau berangkat sekolah lagi. Aku ingin pura-pura tidur atau belajar waktu Mamak minta bantuan beli bumbu ke warung lagi. Aku ingin saling tuduh karena uang Mamak hilang dari dompet lagi. Aku ingin ketawa setelah makan malam bersama karena cerita-cerita anggota keluarga yang lucu yang dialami selama seharian lagi. Sesekali, aku ingin semua itu lagi.

Mustahil memang. Tapi paling tidak, berpikir demikian membuatku tersenyum bahagia. Aku punya masa indah sewaktu keluarga masih berkumpul utuh yang bisa dikenang.

Sekarang sudah begini jalannya. Kami harus siap menghadapi. Selagi masih ada kesempatan, aku ingin sering pulang, menghabiskan waktu bersama Bapak dan Mamak.

Dulu, pas awal merantau, aku ingin pulang karena asing dengan kota orang. Sekarang pun aku ingin selalu pulang, menemani Bapak dan Mamak melintasi masa tuanya.

Dan sekarang rinduku memuncak lagi. Rindu yang paling rindu. Perkara rindu memang tak ada apa-apanya kepada siapapun selain kepada pemilik penis yang menjadikanmu ada dan kepada pemilik puting yang menyusuimu.

Kereta tiba, lamunanku buyar. Orang-orang berebutan naik. Gaduh kemajuan kota memang membuat manusia sibuk. Semoga kita manusia-manusia ini selalu punya waktu untuk kembali pulang ke rumah yang pertama. Mumpung masih ada kesempatan. Mumpung rumah pertama itu masih ada penghuninya. Semoga.

Stasiun Gambir, Jumat 10 Oktober

10 comments

Kok ada kata-kata negativisme nya dsitu bg ?? hohoh

Bang, kok keren kali kau bang? keren karena tulisanmu mampu menyentuh mataku sampek pedih menahan airmata wkwk.

waaaaa mewek deh gw jadinyaaaaaa ben , gara gara lo nih :(
let me go home :(

bagus banget dek..
mksudnya itu yang nie dek...
"kepada pemilik penis yang menjadikanmu ada dan kepada pemilik puting yang menyusuimu."
saya temn kk km grace,,,
slm knl ea...
sukss buat kmu ea...
GBU.

Susah sekarang buat pulang bang, mahal tiket ke Medan bang huhuhu

lumaya bikin haru juga hehe
mampir ya gan ke blog gue muhammaddicka.blogspot.com

merebes mili mata jadi berkaca2 "Aku ingin pulang untuk menghabiskan waktu bersama mereka"

makasih bang artikel menyentuh buat mengingat orang tua.sering update blog lah bang.bang" mas ae lah enak yo mas.matursuwon mas