Saturday, September 27, 2014

Belumlah Cukup

Minggu lalu aku akhirnya balik lagi ke Jogja. Kepulangan kali ini sebenarnya nggak murni keinginanku. Andre, seorang kawan yang kini udah bekerja, ngambil cuti dan pengen liburan ke Jogja. Sekaligus juga bernostalgia, ngelepas rindu sama kawan-kawan lama yang masih menetap di Jogja. Akhirnya, atas bujuk rayu Andre, aku ikut.

Aku dan Andre lulus bareng. Dia yang merupakan sarjana teknik sipil, lalu diterima sebagai karyawan sebuah perusahaan kontraktor dan ditempatkan ke daerah. Aku nggak tau persis di mana, pokoknya sekitar empat jam dari kota Padang. Proyek yang dikerjakan adalah pembangunan jalan. Katanya, ada sekitar sepuluh karyawan di sana dan sekitar tiga puluh pekerja lokal. Mirisnya, semuanya laki-laki. Tempat tinggal berupa mess dari papan kayu kelapa, berada di tengah hutan, jauh dari keramaian. Hiburan yang bisa dinikmati hanyalah internet, televisi dan futsal.

Di Jogja, Andre ngajak kawan-kawan lama ngumpul, nongkrong menghabiskan waktu kayak zaman awal kuliah dulu. Tapi, keadaan memang udah nggak sama lagi. Ngajak kawan ngumpul nggak semudah semester 1 dan 2 dulu. Tiap orang udah punya kesibukan masing-masing.

“Cuk, nongkrong, yok!” Andre menelepon seorang kawan.

“Loh, di Jogja kau?”

“Iya, lagi liburan aku. Yok lah.”

“Aduh, lagi ngerjain skripsi aku.”

“Kubayarin. Tenang kau.”

“Ketemuan di mana kita?”

Karena rayuan ditraktir, empat orang kawan pun berhasil terkumpul.

“Pesan aja. Suka-suka. Abang Andre yang bayar,” kata Andre sombong gitu nyampe di sebuah cafe. Aku yang dikasih mandat menentukan tempat, sengaja milih cafe yang agak mahal. Kalo bayar sendiri, pasti yang kupilih angkringan atau burjo—semacam warkop.

“Mantap!!!” kawan-kawan merespon bahagia.

Sambil nunggu pesanan datang, seorang kawan bertanya mewakili pemikiran kami semua.

“Tumben, Ndre, mau bayarin. Beda ya kalo udah kerja. Kaya, bah!!!”

“Dulu pelit padahal kau. Nraktir sekali setahun. Pas ulang tahun doang. Itupun karena wajib,” timpal kawan yang lain.

Semasa masih mahasiswa, Andre memang termasuk kere. Nggak beda jauhlah samaku. Sering ngutang di akhir bulan dan mempertahankan hidup dengan bantuan indomie. Aku bahkan menjulukinya sebagai “Bapak Energen Indonesia”, karena sering kali mengonsumsi energen kalo dia lapar bukan di jam makan.

“Bukan kaya, Wak. Di sana memang Awak punya uang. Tapi stres kerja terus, nggak tau mau diapain. Untuk apa punya uang kalo nggak bisa dinikmati. Makanya aku ke Jogja, ngajak kalian ngumpul. Nggak apa-apalah keluar uang, asal Awak nikmati. Bikin dulu Awak ketawa!”

Mereka semua ngeliat ke arahku. “Ben, sekarang tugasmu. Stand up dulu kau,” kata salah satunya.

“Udah, main kartu aja kita.” Aku membagikan kartu, mengalihkan topik.


Ya, begitulah. Perlahan, orang akan paham, kalo uang aja belumlah cukup.