Saturday, November 9, 2013

Kebanggaan

Aku jarang telepon-teleponan sama orang tuaku. Aku bersyukur punya mamak bapak yang terbuka menerima prinsipku kalo kualitas lebih penting daripada kuantitas. Jadi sekali teleponan, bisa memakan waktu yang banyak, cerita sana-sini, dari ekor ke kepala sampek balik lagi ke ekor. Apalagi sama mamak, dia adalah pencerita ulung, selalu menyenangkan membayangkan semangatnya menceritakan sesuatu.

Berbeda dengan mamak, bapak tak terlalu suka banyak berbincang di telepon. Kalo ngobrol secara langsung sangat menyenangkan, tidak demikian saat di telepon. Di telepon beliau adalah orang yang sangat to the point, berbicara seperlunya.


Suatu kali setelah berbincang panjang lebar dengan mamak, pergantian pemain dilakukan, giliran bapak bersuara di ujung sana.

"Jadi, kapan kau lulus?" aku cukup kaget, sangat tidak basa-basi.

"Belom tau, Pak. Masih lumayan sibuk stand up di sana-sini. Mungkin tertunda dulu lah."

"Iyalah, ngertinya Bapak. Cuma kau juga harus ngertilah, Bapak pun susah jawab pertanyaan orang-orang kalo nanya tentang kabarmu. Kalo udah lulus kau kan enak, Bapak pun bisa bangga sikit. Nanti kalo kau udah jadi orang tua ngerti sendiri kok. Bagi-bagi waktumu ya."

"Iya, Pak."

Perbincangan sebentar itu cukup berbekas di pikiranku. Kalo istilah Medannya, aku terotak. Aku merasa berontak. Bagaimana bisa Bapak memintaku lulus hanya untuk kepentingannya, hanya untuk kebanggaannya. Aku diminta membagi waktuku memikirkan si skripsi brengsek itu hanya agar Ia bisa menjawab pertanyaan orang-orang. Egois sekali. Lulus itu urusanku, persoalan hidupku sendiri. Lulus kapan pun toh adalah pilihanku dan dampaknya aku yang akan merasakan sendiri. Berbagai pembenaran bersuara di ujung kepalaku. Cukup lama suara-suara itu berputar-putar menyerap energi dan waktuku.

Aku sempat bercerita kepada beberapa orang perihal ini, berharap ada beberapa di antara mereka yang memihakku. Yaa, manusia memang cenderung tak mau berjuang sendiri, bahkan soal prinsip sekalipun.

"Makanya kalo kuliah jangan pake biaya orang tua. Ditagih lulus bisa jadi biar kurang tanggungannya," kata seorang teman pejuang skripsi senior yang memang memperjuangkan sendiri biaya kuliahnya sejak awal.

"Aku udah ga minta lagi kok sejak semester tiga. Aku udah usahakan pake uang sendiri." Aku membela diri.

Bukan, ini bukan soal biaya. Benar, aku sudah lama tidak melibatkan orang tua dalam pembiayaan kuliah. Beasiswa dan rejeki yang kudapat dari hobi yang sedang kujalani cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang sebenarnya tak seberapa itu (syukurnya kampusku memang tergolong murah dibandingkan kampus-kampus kompetitornya).

Lama juga konflik ini aku rasakan. Pikiranku sibuk mencari-cari jawaban, pembelaan diri dan pembenaran. Untuk apa lulus secepatnya? Kenapa harus lulus untuk orang tua? Kenapa aku jadi objek untuk kebanggaan orang tua?  Bukannya aku harusnya lulus karena kebutuhanku sendiri? Kan ini menyangkut hidupku, masa depanku? Apa urusannya sama mereka? Pertanyaan-pertanyaan muncul semakin banyak, tapi jawaban-jawaban tak kunjung datang.

Waktu terkuras tak jelas. Skripsi pun masih dihalangi malas. Obrolan dengan Bapak bukannya membuatku bersemangat dan termotivasi, malah membuatku sibuk dengan opini sendiri.

"Mamak udah ga sakit lagi loh." Ucap mamak suatu kali via telepon.

"Memangnya Mamak sakit?"

"Iya, sakit Mamak." Anak macam apa aku ini, mamaknya sakit pun ga tau, batinku.

"Kok aku ga tau?"

"Ngapain kau dikasih tau. Nanti makin banyak pikiranmu di perantauan sana." Kebijakan macam apa lagi ini. Mamak yang aneh, pikirku. "Biasalah kalo udah berumur, sakit tua. Badan lemas, kalo malam meriang panas dingin. Nafsu makan ga ada. Pusing pening kepala," lanjutnya.

"Aci pulak anaknya ga dikasih tau. Jadi udah sembuh? Udah berobat?"

"Udah sembuhlah. Ga ada berobat. Sakitnya udah lama sebelum kau masuk komedi-komedi itu. Mungkin karena sibuk nonton kau dan berdoa biar kau berhasil, trus juga ketawa-ketawa karena komedi-komedi itu, jadi lupa kalo aku sakit. Tiba-tiba udah sehat aja kurasa. Ga meriang, ga pusing-pusing lagi."

Begitu telepon dimatikan, aku menerawang jauh ke ujung pandangan. Pikiran kemana-mana ga karuan. Terbang, berputar-putar, hinggap, melayang dan akhirnya terjerembab kembali ke otakku. Otakku berfungsi kembali dengan baik. Menyimpulkan bahwa sesederhana itu ternyata obat untuk orang tua. Hanya sekedar sebuah kebahagiaan kecil melihat anaknya berhasil melakukan sesuatu. Aku seperti ditampar dengan jurus 1000 tangan ala pesilat di televisi.

Pantas saja bapakku bilang "nanti kalo jadi orang tua, kau ngerti sendiri." Untungnya aku mulai mengerti bahwa kebanggaan yang dimaksud bukan sekedar kebanggaan biasa. Kebanggaan yang dimaksud tidak bisa diartikan secara harfiah. Ada begitu banyak makna yang terkandung di dalamnya. Bahkan kebanggaan bisa berarti obat penyembuh penyakit. Hal yang tak pernah masuk akal bagiku sebelumnya.

Kemudian aku mulai berpikir kalo justru kebanggaan secara harfiahlah yang dilakukan kebanyakan anak. Banyak anak yang dengan bangganya menggunakan gadget mahal-mahal, mobil dan motor bagus, padahal sesungguhnya itu milik orang tuanya. Anggap saja itu contoh yang ekstrim. Mari ke contoh sederhana saja, aku. Aku merasa bangga dengan apa yang aku raih, aku bisa kuliah di kampus yang bagus, punya kemampuan akademik yang lumayan, sempat masuk televisi dan lumayan tampan. Tapi sesungguhnya kebanggaan itu milik orang tuaku. Mereka yang memberiku makan, memberiku fasilitas dan ajaran kehidupan, menuntunku berjalan, dan menjadikan aku apa yang sekarang.

Anak adalah kebanggaan orang tua, yang maknanya sangat dalam. Maka seharusnya anak memberikan orang tua kebanggaan, dengan makna yang dalam juga. Tak ada yang salah dengan melakukan sesuatu untuk kebanggaan orang tua. Asal tidak memenjarakan batin dan mengekang, orang tua punya hak memapah kita yang belum lihai berjalan, agar tak jatuh tergelincir di lantai kehidupan.

"Berilah ibu bapakmu kebanggaan, maka niscaya umurnya akan panjang." - Bene Dionysius Rajagukguk

24 comments

aduuu, aku terharu bang T^T jd makin sayang k ayah sama ibu :3

keren banget bang, (y)
apalagi bagi anak yang merantau, sama kaya gue bang.
abang di sumut, ane sumsel

sering2 aja bikin artikel yang bagus kaya gini bang. :D

Inspirasiku, kau Bang. Mendapat pelajaran yang banyak dari blog kau ini.
Makasih ya Bang :) Kutunggu postingan selanjutnya

This comment has been removed by the author.

Jadi teriang-iang dengan tulisan ini bagaimana aku masuk kampus dan sekarang kampus tu menjadi mahal dengan biaya orang tua dan dengan cepat-cepat aku lulus tepat waktu dan al hasil saat ini masi belum punya prestasi yang bisa orang tua banggakan ya belum.
;)

blog yang bagus, banyak manfaatnya buat saya, salam kenal ya bang

Terima kasih teman-teman yang sudah mengapresiasi. Ditunggu kritik dan sarannya :))

aduh bang :') merinding baca post ini, bahkan aku baru kepikiran kebanggaan macam itu. keep posting bang! :')9

Keren bang :') Terharu bacanya :') Jadi mikir apa aku udah banggain orang tua atau belum :'
Keep posting bang Bene :)

Kangen ibu bapak ku juga... aku jg merantau :( Terharu bacanya bang :")

Kadang memang, harfiah belum cukup buat menjelaskan secara konkrit. Thanks bang!

Kalo bisa abang bikin kek gini, abang sekalian aja jadi motivator wkakwkak.
Tapi overall, keren bang.

kerenn kaliii bang :"( . pagi" dah buat nangis anak" perantauan . aku tunggu lah buku mu jadi bang.

keren bang.....jadi inget orangtua di rumah dan semangat unuk buat mereka bangga.....meninspirasi sekali bang...

mantap kali bg.,sukses terus lah utk kedepannya :)

Lagi ngepoin blogmu bang eh nemu begini, sumpah galau bang :')
Mamak-Bapak itu malaikat kali buatku! Mauliate bang..