Monday, December 3, 2012

Sukarno dan Plesetan

Stand up comedy, seni komedi yang sama sekali belum pernah kudengar, hingga pertengahan 2011. Mulai mengenal sekitar Agustus dari youtube dan mencoba ikut di awal Desember. Entahlah, aku juga ga menduga bisa sejauh ini.

Kenapa aku suka stand up comedy? Aku pun tak tau. Yang kutau, aku itu suka ketawa. Aku suka semua hal yang membuatku tertawa. Aku penikmat Bajaj Bajuri, Ekstravaganza, Republik Mimpi, OVJ, Tangkap, Ngelaba, Suami-Suami Takut Istri, Warkop DKI, Penonton setia Audisi Pelawak TPI (API), penikmat lawakan tradisional Batak (banyak koleksi kaset dan cd, walaupun bapakku sih yang beli), pokoknya semua acara yang bisa bikin ketawa. Bahkan aku sering ke Perpustakaan Umum di kotaku cuma buat baca buku kumpulan humor.



Pas SMP, tepatnya kelas 1 SMP, ada perlombaan grup lawak antar kelas di sekolahku. Dan disini kelasku juara 1. Tapi aku ga bermain dalam grup itu. Entah apalah namanya, intinya tugasku cuma memperhatikan mereka, mengatur urutan, dan memberikan saran dialog-dialognya. Kalo mau sok jagoan, mungkin bisa dibilang aku berperan sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Sayangnya aku ga mau sok jagoan. Walaupun sejujurnya apa yang kami tampilkan kami sadur dari sebuah aksi lawak tradisional berjudul ‘Lawak Karindo’.

Setiap lagi melamun atau bengong aku lebih suka memikirkan sesuatu yang lucu atau membuat cerita yang lucu, di angan-anganku, kemudian tertawa sendiri. Aku juga ga tau kenapa. Pokoknya itu membuatku senang. Aneh memang. Makanya pas SMP aku terkenal anak yang jarang keluar rumah buat main. Bayangkan aja, pas SMP kerjaanku kalo ga menulis (puisi atau cerpen), ngelamun dan ketawa-ketawa sendiri, ya main TTS (Teka Teki Silang). Ini lebih aneh lagi, anak SMP tergila-gila sama TTS. Benar, aku benar-benar kesurupan TTS. Di kelas, setiap ada waktu luang, aku ngisi TTS. Bahkan akhirnya teman-teman sekelasku ikut kesurupan. Kemudian, hampir setiap orang punya buku TTS sendiri. Yang paling absurdnya lagi (aku ngakak setiap ingat ini), setelah merasa ga tertantang ngisi TTS, aku beralih ke membuat TTS. Hahahaha. Aku masih ingat punya buku tulis isi 50 halaman yang setiap lembarnya berisi TTS buatanku. HAHAHAHA. Malu juga kalo ingat ini. Sudahlah, malah ngawur jadinya. Biarlah itu jadi kenangan. Hahahaha aku masih ga bisa nahan ketawa kalo ingat ini.

Kelas 3 SMP, kalo ga salah. Aku membaca Harian Analisa. Ada rubrik yang berisi lawakan-lawakan kayak yang ada di buku kumpulan humor gitu. Nah, kucoba lah mengirim beberapa lelucon hasil lamunanku selama ini. Aku menunggu ceritaku dimuat. Lama sekali tak ada kabar baik. Hanya puisi-puisi dan beberapa cerpenku yang sempat dimuat. Alhasil menulis lelucon tak kulanjutkan. Baru setelah memasuki SMA, lelucon itu ternyata diterbikan. Masalahnya pas SMA aku sudah ga berminat lagi melakukannya.

Kenapa aku bisa menyukai komedi, sama seperti aku menyukai puisi, cerpen dan TTS. Itu semua ulah bapakku. Bapakku meracuni masa kecilku dengan empat hal itu. Bapakku sangat doyan keempat hal itu. Dan sadar atau enggak, berpengaruh ke aku. Yang paling menonjol adalah soal komedi. Bapakku dikenal sebagai orang lucu diantara teman-temannya. Di Lapo tuak, orang biasanya disenangi karena jago main gitar atau suara bagus saat bernyanyi, tapi beda dengan bapakku. Dia jago melawak. Kenapa bisa? Aku pun tak tau. Pokoknya sering kali dia ditelpon orang dan disuruh ke Lapo Tuak karena keahliannya itu. (Mungkin nanti perlu kutulis juga soal ini.)

Setelah SMP minat terhadap komediku terlihat, masa SMA adalah masa apa ya, sulit menemukan padanan katanya, mungkin kata ‘BRUTAL’ bisa mewakili. Aku brutal, tak bisa diam, selalu ingin berbicara dan melucu. Pokoknya setiap aku ngomong, aku ingin bikin orang ketawa. Aneh. Tapi itu natural. Ga kubuat-buat. Karena itulah, di kalangan teman-temanku, khusunya teman sekelas, aku dikenal sebagai “ORANG PALING GARING SE-SEKOLAH”. Kawan-kawanku memang kampret!

Mungkin karena jiwa brutal dan ingin bikin orang ketawa, sementara skill tidak memadai atau memang tak berbakat, setiap aku mencoba melucu, selalu diikuti koor dari kawan-kawanku. Aku hapal kali koor itu. Dengan nada yang tepat dan jarang meleset, merdu sekali mereka bakal bernyanyi “KRIYUK KRIYUK KRIYUK” setiap aku selesai melontarkan leluconku. Suram.

Bahkan isengnya kawan-kawan sekelasku ga sampai di situ. Ada beberapa orang yang dipilih menjadi tim penilai terhadap obrolan-obrolan kami. Jadi tim kecil ini bakal menilai seberapa banyak setiap orang gagal melucu setiap harinya. Dan hasil ini selalu dirilis di jam pulang sekolah. Dan kalian tau apa? Aku adalah orang yang selalu menduduki peringkat atas. Selalu juara satu. Kampret!!!

Yang paling bikin kesal dan emosi itu adalah saat sebenarnya lelucon yang kulempar memang lucu. Tapi ada konspirasi yang kuyakini dijalankan agar aku selalu ada di peringkat satu chart itu. Busuk memang! Yang paling parah, dalam suatu kelas dengan Pak Paino, wali kelas dan guru Fisika kami, beliau pernah berkata, “Si Bene ini sering kali mau melawak, tapi ga pernah lucu.” Kawan sekelasku ketawa sepuasnya, sementara aku dihakimi, dibunuh karakterku, dizolimi, dianiaya, disakiti tanpa pernah dicintai. Halah!!

Masa itulah yang kuyakini membentuk pribadiku. Tanpa masa SMPku yang absurd ga akan membuat aku menjadi yang sekarang. Tanpa masa SMAku yang brutal, ga akan terbentuk mentalku seperti sekarang, ga akan membangun semangat dan membunuh rasa maluku. Aku masih suka ketawa-ketawa sendiri kalo ingat betapa mengerikannya perjalanan menyenangkan ini. (Belom lagi cerita masa SDku yang dramatis. Ini juga perlu kuceritakan sepertinya. Suatu saat lah.)

Seperti kata Bung Karno, JAS MERAH. JAngan Sekali-sekali MElupakan masa RemajAH. - @bene_dion

4 comments

Kenapa di paksa RemajAH.n LOL
ditunggu cerita masa SD.n (^_^)d

Suka ketawa berarti harus baca novel-novelku, Lay.. :)

@InVick
Haha namanya juga plesetan :))

@Anonim
Apa novelmu itu lae?

Bang kul teknik UGM y? hehe
salam dr teknik UNS Solo, tau UNS kan?
kapan2 stand up di solo donk...makasih (^_^)d