Tuesday, October 2, 2012

Menu(lis) (L)a(gi)


Dulu, dulu kali, aku sempat sangat rajin menulis. Pas SMP beberapa cerpen, artikel, puisiku sempat masuk koran level provinsi gitu.

SMA, mulai sepi lagi. Cerpen dan artikel nihil. Paling beberapa puisi yang karena iseng atau apalah, sering sekali aku post di buletin board frienster.

Kuliah?? Pada awalnya lumayan. Ada beberapa cerpen dan puisi. Tapi beranjak tua di bangku perkuliahan, semangat menulis raib. Entahlah, aku ga punya alasan kuat untuk berkilah.



Sekarang, twitter menjajah. Sosial media ini merenggut waktuku dan aku pasrah. Menariknya, twitter ini justru membuatku menulis lagi. Pendek-pendek karena twitter cuma menyediakan 140 karakter, mungkin lebih cocok kusebut sajak.

Ini beberapa yang sempat tersimpan di bagian favorite. Ga bagus sih, tapi lumayan lah.

Aku bersahabat dengan sepi, supaya pas engkau tinggalkan aku nanti, aku sudah terbiasa bersama sepi.

Jangan bilang kau mengerti, jika sinar kau bilang silau. Kau pikir aku benalu.

Ketika kubilang, kau menatap. Ketika kutatap, kau menghilang. Ketika kucari, jejakmu menguap.

Aku sering melihat burung, tidak terbang, sayapnya tidak sempurna, tapi tetap berkicau. Ya, berkicau.

Sekali waktu kulihat keluar, ada dua bersama. Sekali lagi kulihat, masih berdua, tapi sudah terpisah oleh keras kepala.

Sering kali kubilang padamu, laut punya pasang dan surut. Kau yang tak mengenal laut, atau aku yang tak mengenalmu. Entahlah.

Malam ini dingin, katamu. Air matamu membeku di pipi. Aku diam, yg kutau es akan mencair pada waktunya.

Aku melihat lukamu, nanahnya coklat kehitaman. Kurasa karena kau memilih membiarkannya. Mendekatlah, kubersihkan walau sakit.

Saat nanti mentari hilang, aku masih berharap paling tidak hangatnya tersisa.

Aku lelah memanggil namamu, kau tak juga paham bahwa bukan mulutku yang mengucap.

Aku selalu suka gerimis, membuat udara berbau tanah. Mengingatkan pada kematian.

Kau selalu memaksa kl kupu-kupu jauh lebih indah. Aku menggeleng. Mungkin, setelah kau mati.

Kau pikir aku ingin surga? Sementara kau pilih neraka dengan terus menyakitiku? Mati pun aku tak mau terpisah.

Siang ini, aku melihat neraka dibalik senyum surgamu.

Aku diam, kau pancung leherku. Air matamu jatuh.

5 comments

Huhuuu, yg ini keren bang 'Aku melihat lukamu, nanahnya coklat kehitaman. Kurasa karena kau memilih membiarkannya. Mendekatlah, kubersihkan walau sakit.'

bang, ini keren sumpah bang. keep posting yeaah! ^^9

Keren abiss! Itu inspirasi darimanaa:" irii*plak

iya ya bang, semakin lama produktivitas menulis semakin menurun :|
sama, dulu gue jg suka nulis, sejak masuk kuliah, ga ada tulisan gue yang selesai, selain pernah nih sekali lomba nulis cerpen. hbs itu sudah -_-