Tuesday, August 16, 2011

Pulang

Saat ini, saat aku menulis (ga usah protes, iya ini namanya emang ngetik) post ini, aku udah berada di kamar tak lebih 3*3 meter, di atas kasur yang tak lebih mahal dari 3*3 ratus ribu, di pogung rejo, jogjakarta, perantauanku tercinta.

Aku tiba kemarin malam, landing dengan pesawat Lion Air Boeing 737 700 ER yang gede banget itu sekitar jam 8 malam. Asyik juga naik pesawat baru ini, goyangannya lembut gan, tapi masih lebih enak goyangan inul sih :( Sebelumnya temanku Zita setengah memaksa udah ngesms kalo mau jemput aku. Aku yang udah capek 'dikerjain' sama Sriwijaya Air akhirnya pasrah dijemput. Zita dateng bareng Anton, tak lain dan tak bukan teman ngampusku juga.



Sesaat setelah landing, aku menghirup nafas panjang dan menghembuskannya seketika. Tidak kuhiraukan lagi bapak disampingku yang melotot tajam, mungkin terharu dengan aroma terapi yang keluar dari mulutku. Aku ingin cepat" turun, pulang dan tidur. Asam laktat sudah menggerogoti semua persendianku. Tetapi lagi" aku dibuat galau, semua penumpang berpikiran sama, dan terjadilah himpit menghimpit yang kayaknya udah jadi tradisi di dunia perpesawatan. Mau ga mau harus sabar (lagi).

Setelah turun dari pesawat dengan tertatih tatih, aku masih harus galau lagi untuk mengambil koper yang berisi 'sampah' liburanku. Antri sekian menit dan kemudian i got it. Dengan tenaga sisa kemudian aku bergegas menuju pintu keluar. Untung saja tak lama kemudian kulihat kedua temanku berdiri disana. Eh bukannya bilang apa gitu yang melegakan hati, bilang kangen kek, rindu kek, selamat malam kek, selamat idul fitri kek, kedua teman ini malah semyum" sambil ngomong 'ih siapa sih, kenal ya???' Trus dilanjut lagi, 'kok makin berantakan sih kamu bang!' Gubrakkkk... Karena aku baik hati, rela berkorban, nasionalis tinggi dan agak ganteng banyak, aku anggap aj itu sebagai kata" mewakili 'hai bang ben, apa kabar, gimana liburannya? kok makin ganteng sih?' hahahaha.

Huuuuhhh, senang juga aku akhirnya bertemu lagi dengan mereka, bercanda tawa lagi. Ngece"in mereka lagi. Berlanjut lagi perjalanan hidupku di rantau ini. Dan yang paling penting akhirnya selesai perjalan yang menyiksa ini. Dan aku sudah disini, di Jogjakarta lagi.

Perjalanan berlanjut ke parkiran. Sungkan juga aku nyuruh Anton yang ngebawa koper dan sekardus oleh" yang dari tadi pagi menyiksaku ke parkiran. Clinggg.., aku punya ide. Langsung saja bakat aktorku keluar, pasang muka dikasihani. Ampuh gannn. Koper dan kardus berpindah tangan, lumayannn...

Mobil melaju keluar dari bandara. Kita memutuskan untuk makan dulu sebelum aku diantar ke kosan. Setelah sekian menit berdebat kusir menentukan tempatb makan, karena tak ada yang punya ide, keliling" ga jelas karena ide tak kunjung datang, akhirnya secara ga sengaja kita makan nasi goreng sapi di depan padmanaba kotabaru. Then, sekitar sejaman makan selesai. Aku ama Anton dianter Zita ke kosan masing", kalo ga salah sih aku tiba di kosan jam 10an.

Melelahkan, satu kata mewakili perjalanku itu. Perjalanan yang cukup menguras tenaga dan emosi. Ceritanya begini, aku udah mesen tiket Sriwijaya jauh" hari, kalo ga salah seminggu setelah aku tiba di kota tiada duanya, kota tiada tandingannya, kota tercinta Tebing Tinggi lemang rock city. Tiket Medan-Jakarta pukul 15.00 dan dilanjutkan Jakarta-Jogjakarta pukul 18.40 untuk penerbangan tanggal 15 Agustus.

Liburan telah usai (sebenarnya sih belom, kan masuk kuliahnya tanggal 12 September), refreshing sejenak telah selesai, mengobati rindu akan keluarga telah dilaksanakan, aku bersiap" pulang.

Minggu, 14 Agustus sekitar jam 1 siang, aku di telpon oleh Sriwijaya Air. Penerbangan Jakarta-Jogjakarta yang semula pukul 18.40 dimajukan menjadi pukul 13.00. Mau tidak mau, aku tidak bisa melanjutkan perjalanku ke Jogja kalau aku mau tetap dengan rencana awal. Untungnya, dan memang seharusnya, aku dikasih 3 solusi oleh pihak Sriwijaya Air. Pertama, perjalanku diundur menjadi tanggal 19 Agustus dengan waktu yang sama dengan rencana awal (yang ini sebenarnya cukup menarik, apalagi emakku, senang sekali kalo aku milih yang ini, karena emakku jadi bisa menikmati kegantengan anaknya untuk beberapa hari lagi, tapi aku juga ga tau kenapa, aku ga mau nunda perjalananku). Kedua, tiket dibatalkan dan uang dikembalikan (rugi kali lah kalo aku milih yang ini). Ketiga, penerbangan Medan-Jakarta dimajukan menjadi pukul 13.25, dan penerbangan Jakarta-Jogjakarta dialihkan ke maskapai lain (setelah galau 2 jam lebih, akhirnya aku memilih ini).

Sekitar jam 4 kurang aku ditelpon lagi, mengkonfirmasi pilihan mana yang akan aku ambil. Kukatakan bahwa aku pilih dicari penerbangan pengganti Medan-Jakarta, dengan syarat satu terminal dengan penerbangan Sriwijaya yang Medan-Jakarta. Pihak Sriwijaya mengiyakan, dan mengkonfirmasi bahwa penerbangan Jakarta-Jogja menggunakan Lion Air pukul 19.00.

Rencana berubah. Awalnya aku yang akan berangkat jam 10 pagi dari Tebing Tinggi, karena perjalan Tebing Tinggi-Medan memakan waktu sekitar 2 jam, kemudian mengubahnya menjadi pukul 7 pagi. Faktanya aku berangkat jam 8 lebih dari rumah, diakibatkan acara pemberangkatan sederhana yang selalu dilakukan keluargaku, dan baru mendapatkan bus Intra Tebing Tinggi-Medan setengah sembilan.

Hitungan serdahana sih aku ga telat, tapi galau juga aku kalo ada hal yang diluar dugaan terjadi. Setengah jam perjalanan lancar, tapi kemudian aku galau tingkat dewa karena perjalanan melambat, jalanan macet. Aku bolak balik ditelpon oleh pak tua ku yang menunggu di terminal Amplas, kok aku ga nyampe". Keringat dingin mulai bercucuran. Gelisah ga jelas menggrogoti pikiran. Tapi kuusahakan tetap berpikiran positif. Singkatnya aku tiba di Amplas dengan kecemasan tingkat tinggi jam 11 kurang 10.

Perjalanan kemudian berlanjut ke sekolah tempat kakakku mengajar. Kakak yang satu ini ngotot mau ketemu dulu sebelum aku pulang. Disini aku udah ga panik lagi sih, setelah pak tuaku memprediksi kalo sebelum jam setengah satu aku udah akan tiba di bandara. Aku pikir jarak Amplas, sekolah kakakku dan bandara itu berjauhan, ternyata berdekatan. Keringat dinginku langsung disedot kembali oleh pori". Setelah ngobrol sekelak (bahasa gahol medan untuk kata sebentar), perjalanan di lanjut ke bandara.

Aku tiba di bandara setengah satu kurang. Langsung saja aku menuju counter Sriwijaya dan Lion, karena sesuai konfirmasi aku harus mencetak ulang tiket. DAMN !! Ternyata terminalnya berbeda. Langsung saja moodku jatuh, ke dasar sungai Ular. Coba bayangkan, aku yang membawa koper cukup gede ini, harus ganti terminal di Soettha. Kucoba tetap berpikir positif, gak apa" lah, paling tidak pihak Sriwijaya bertanggungjawab dengan pelayanannya.

Aku check in,pak tuaku udah pulang. Tunggu punya tunggu, hingga jam 2 lebih, penumpang belum juga disuruh boarding, padahal seharusnya penerbangan jam 13.25. Aku galau, segalau-galaunya. ga ada konfirmasi apa". Apakah delay atau tidak. Aku takut kalo penerbangan Sriwijaya delay cukup lama, penerbangan Lion Air tak akan terkejar, dan tidak akan ada yang bertanggung jawab, sebab sudah berbeda maskapai.

Thanks God, untungnya jam 2 lebih boarding gate dibuka. Pesawat take-off sekitar jam setangah tiga. Ga tau kenapa, rasanya penerbangan Medan-Jakarta kali ini adalah penerbangan terlama. Jam 5 kurang baru tiba di soetta. Lumayan lega aku, karena aku tak perlu buru", sepertinya sempat untuk berpindah terminal dalam waktu 2 jam.

Kegalauan muncul lagi, baggage claim cukup lama. Koperku lama sekali muncul batang hidungnya (koper ada hidungnya kok :p). Aku cemas, mulut komat-kamit ga jelas baca mantra. Pikiran sudah kacau balau. Pukul 17.45 muncul juga koperku itu. Setelah mendapatkannya langsung saja aku menuju petugas bandara, menanyakan arah terminal 1A, dari tempatku saat itu terminal 1B. Kutanyakan petugas tersebut, berapa lama kalau berjalan kaki, katanya sekitar setengah jam. langsung saja lututku lemas, pori" membesar, keringat bercucuran, anus mengendus (yang ini fiktif belaka kayaknya), tapi walaupun begitu dengan semangat 45, kebetulan sebentar lagi Hut RI, membayangkan semangat para pahlawan dulu merebut kemerdekaan, melawan penjajah, bergerilya mengusir musuh (lebay), aku memutuskan untuk ikut bertempur menarik nafas panjang, menginjak pedal gas, bergegas menuju terminal 1A. Setelah berlari ngos-ngosan dengan tas berisi laptop di punggung, tuas koper di tangan kanan, dan kardus kecil di tangan kiri yang cukup membebani, akhirnya kulihat tulisan 'Keberangkatan Dalam Negeri-Terminal 1A'. KAMPRETTTT.., setengah jam dari Hongkong, cuma 5 menit kok, dasar petugas bandara gilak, buat orang galau bercucuran air mata aja lu !! SIAALLLL.. Dikerjain aku bah hari ini.

Tapi paling tidak aku sudah disini, di kamar yang indah ini. Kecemasanku ternyata tidak beralasan. Aku belajar dari kejadian itu untuk tidak menjadi orang yang mudah panik, tidak berpikiran negatif, untuk selalu optimis dengan rencana terbaru, walaupun rencana lama yang sudah matang harus berubah.

'Rasa was-was menjagamu untuk tetap berada di jalur tujuan, tetapi jangan sampai mengalihkan pikiranmu sehingga kamu malah lupa mana jalur tujuanmu.' - Bene Dionysius Rajagukguk

1 comments :

Ngakak sampe jungkir balik gue bang hahah.. Salam Tebing Tinggi ;)