Wednesday, August 17, 2011

Mencintai Indonesia 100%

'Berilah kepada kaisar apa yang menjadi hak kasiar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah' itulah jawaban Yesus saat Ia dicobai dengan pertanyaan menjebak, 'apakah rakyat perlu membayar pajak kepada kaisar'.

Pagi ini aku baru saja pulang mengikuti misa harian di gereja St. Antonius Kotabaru Jogjakarta. Dan petikan di atas adalah injil misa harian tadi. Keikutanku di misa kali ini, yang notabene misa harian(aku sangat jarang ikut misa harian) sebenarnya tidak disengaja. Aku diajak oleh temanku Anton yang kebetulan bertugas sebagai lektor (pembaca sabda Allah). Sambil menyelam minum air, yah aku ikutin aja misanya dengan serius. Hitung" membuka jalan kesurga (karena mungkin jalanku belum dibuka :( ).



Karena misa hari ini bertepatan dengan 17 Agustus yang merupakan hari Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, terang saja misanya berbasis kenegaraan. Lagu pembukanya saja 17 Agustus 1945, lagu yang sudah sangat jarang aku dengar, apalagi semenjak mengenyam bangku kuliah, hingga lagu Dari Yakin Kuteguh yang dikumandangkan di tengah misa.

Awalnya aku tertegun, agak aneh dengan konsep misa kali ini. Pikiran sakit jiwaku bertanya, apa hubungannya kedua lagu itu dengan misa, dengan keimanan, khususnya iman khatolikku. Hingga memasuki khotbah, aku mulai menikmati misa ini. Dalam khotbahnya, pastor mengatakan begini, 'Jadilah 100%Khatolik, dan jadilah 100% Indonesia'.

Aku dan orang-orang disekitarku, menurut pemikiran sakit jiwaku, sangat banyak yang fanatik akan agamanya. Banyak orang rela ikut berkonflik saat isu" tentang pelecehan agama muncul ke permukaan. Orang" bisa dengan sangat mudah mencintai 100% agamanya. Bahkan orang yang tidak mengerti banyak tentang agamanya sekalipun, biasanya akan sangat mudah berang saat agamanya mulai diperdebatkan.

Lagi" menurut pantauanku, seorang anak yang sakit jiwa, hal ini justru berbeda saat menyinggung masalah nasionalisme. Kita terlalu banyak berpikir, menuntut alasan, apatis terhadap sisi baik, berorientasi hanya pada hal buruk, ketika kita dituntut mencintai Indonesia. Obrolan" santai antara aku dan teman"ku mengenai Indonesia biasanya berujung pada kesimpulan yang keliru, 'Indonesia udah parah cuy, koruptor dimana", konflik dimana", kemiskinan dimana"'. Semua orang juga tahu kalo kenyatannya begini, tetapi kenapa bukan ide atau solusi yang disimpulkan.

Secara tak sadar, keindonesiaan sudah menjadi hal yang merendahkan bagi sebagian orang. Mungkin anda pernah mendengar lelucon seperti, 'Panas banget sih negaramu ini!', atau 'Sorry ya, gue warga negara Inggris!' atau bahkan lebih parahnya 'Hah, Indonesia itu apa ya??'.

Aku sadari bahwa aku sangat mencintai agamaku, 100%. Dan aku juga sangat menyadari, bahwa banyak orang diluar sana juga sangat mencintai agamanya, semaksimal mungkin, se100% mungkin. Aku juga mengakui bahwa aku bukan warga negara yang sudah mencintai Indonesiaku 100%, dan aku yakin diluar sana juga sangat banyak yang tidak peduli akan keindonesiaannya, tidak mengakui keindonesiaannya, bahkan yang lebih parah lagi, membenci keindonesiannya.

Tapi dari misa hari ini aku belajar bahwa aku selama ini keliru. Aku bisa sangat mudah menjadi 100% khatolik, tetapi sadar bahwa selama ini aku bahkan belum mencapai setengah saja dari menjadi 100% Indonesia. Lelucon" sederhana yang menertawakan Indonesia, ternyata bisa sangat menyiksa buat mereka yang sudah 100% Indonesia, sama seperti lelucon" yang menyinggung masalah agama yang didengar oleh mereka yang fanatik akan agamanya.

Agama dan nasionalisme memang adalah dua hal yang berbeda, mungkin sangat berbeda jauh. Tapi agama dan nasionalisme bukanlah musuh yang tidak bisa disatukan. Kita bisa mencitai 100% agama kita dan bisa mencintai 100% Indonesia kita. Apapun cara yang bisa kita lakukan, cintailah secara 100% Indonesia, seperti para pejuang yang sangat mencintai negara ini, lebih dari 100%, sehingga rela mati dalam keyakinannya, dalam keimanannya akan agama tertentu, untuk kemerdekaan Indonesia. Apapun yang kita lakukan, di belahan dunia manapun kita berada, cintailah 100% Indonesia, seburuk apapun Indonesia dimata kita, sehina apapun Indonesia di mata kita karena Tuhan dalam agama yang kita percayai, memberikan kita negara yang sangat indah (walaupun dari beberapa sisi kenyataannya tidak indah), Indonesia tercinta.

Tidak harus dengan cara yang indah, tidak harus dengan perjuangan ekstrim, tidak harus menjadi pejabat negara, tidak harus menjadi PNS, tidak harus memiliki uang banyak, tidak harus berpendidikan tinggi, untuk menjadi 100% Indonesia. Cukup dengan mengakui dan mencintai 100% Indonesia. Selanjutnya terserah setiap individu memilih jalannya, untuk berbuat lebih bagi negara ini.

'Right or wrong, this is my country' - jadul, tapi mengena di hati.

'Tegakkan badanku, aku ingin melihat Sang Merah Putih berkibar di ujung tiangnya !!!' - begitu kira" dialog Nagabonar saat hampir pingsan dalam upacara bendera dalam film Nagabonar Jadi 2.

'Berilah kepada Tuhan, apa yang bisa kau berikan se100% mungkin, dan berilah kepada negara apa yang bisa kau berikan se100% mungkin' - Bene Dionysius Rajagukguk

1 comments :