Saturday, July 16, 2011

Membaca Jusuf Kalla

Oke, sudah kutetapkan dalam hatiku, bahwa aku ingin menulis lagi. kalau dulu sejak jaman smp sampai sma aku banyak berkecimpung di puisi, cerpen dan beberapa artikel yang 'sempat' mejeng di koran lokal di provinsiku, kali ini aku ingin lebih mencurahkan keringat mengurusi blog ini. semoga saja bukan hanya komitmen busuk belaka.

Kali ini aku ingin berbicara tentang tokoh Indonesia yang paling banyak mendapat perhatianku. aku tidak menyebut beliau tokoh idolaku, karena sampai saat ini, menurutku belum ada tokoh nasional yang pantas diidolakan. tapi paling tidak beliau cukup lebih baik dari tokoh-tokoh yang lain. sekali lagi, menurut penilaianku.



Beliau adalah Muhammad Jusuf Kalla atau yang lebih sering disapa JK. Mantan wakil presiden ini belum lama mendapat perhatianku. awalnya tak ada tokoh nasional selain BJ Habibie yang mampu memaksaku membeli buku biografinya. tapi setelah mengikuti perkembangan kinerja beliau semasa 2004-2009 dan proses perjalanan politiknya hingga akhirnya kalah dalam pemilu presiden 2009, aku merasa ada hal istimewa yang dimilikinya.



Pada awalnya, beliau tidaklah cukup menarik buatku. Aku memang mengakui kalau beliau berbeda dengan wapres" sebelumnya. Ya, memang JK bekerja cukup banyak, terutama dalam perdamaian berbagai konflik horizontal di negeri ini (menurut berbagai informasi yang aku dapatkan-aku belom tahu fakta sebenarnya). JK tidak mau dijadikan sekedar 'ban serep' dalam sistem presidensial (makanya setiap presiden mesti ngerasa sial) seperti yang kebanyakan terjadi di periode sebelumnya. Satu kejadian yang membuatku cukup hanyut dalam permainannya dan membuatku menjadi salah satu pengagum JK adalah bagaimana cara JK menjawab pertanyaan seorang ibu dalam acara debat di TvOne. Acara ini, kalau tidak salah merupakan rangkaian acara debat tidak resmi yang dilakukan oleh TvOne untuk mempertontankan kebolehan para calon dalam bersilat lidah menanggapi pemilu presiden 2009.

Dalam acara tersebut, ibu yang berstyle orang kantoran itu, bertanya bagaimana cara JK meningkatkan indistri dalam negeri, kaitannya dengan kecintaan masyarakat Indonesia dengan produk dalam negeri yang masih rendah. Aku memang sudah mengenal gaya politik JK, beliau tidak suka berbahasa level tinggi seperti kampanya kampungan yang banyak digunakan calon pejabat lain. Aku suka gaya bahasa masyarakat bawah yang nancep, jelas dan mudah dimengerti yang JK gunakan. Salah satu tokoh yang cukup piawai dengan jurus ini adalah GubSU Syamsul Arifin.

Tapi yang mengejutkan adalah, cara belaiu kali ini cukup unik. Beliau tidak menjawab pertanyaan ibu tersebut, malah bertanya balik "Sepatu ibu merk apa?". Ibu itu hanya senyum cengeng-ngesan sambil geleng" ga jelas. Kemudian JK bertanya lagi, "Tas ibu merk apa?". Dan lagi lagi ibu itu memerahkan pipinya dan hanya senyum" kajol (kagak jolas). Kemudian JK melepas sepatunya dan menunjukkan ke kamera, aku lupa merknya, yang jelas itu produk dalam negeri.

Sejak itu aku menetapkan, bahwa JK unik, berbeda, berpotensi, dan aku siap untuk mencari dan ingin tahu lebih tentang beliau. Untuk itulah, sebelum pulang liburan ke Tebing Tinggi, aku menyempatkan membeli buku biografi JK. Membaca JK karya Taufik Adi Susilo.


Dan benar saja dugaanku. JK memang cukup menarik. Beliau memiliku jalan yang berbeda dalam berpolitik dan berbisnis. Pemikiran-pemikirannya kadang diluar dugaan. Aksinya yang responsif dan berani mengambil resiko, walaupun terkadang ada beberapa langkah yang dianggap tergesa-gesa dan tidak perlu, mengantarkan beliau pada kesuksesan yang diakui banyak tokoh di dalam maupun luar negeri, sebagai salah satu tokoh terbaik yang dimilik Indonesia.

Dalam buku ini banyak cerita dan pemikiran JK yang inspiratif. Tapi salah satu yang sangat aku suka, adalah bagaimana beliau menanggapi masalah 'pengiriman' asap ke Malaysia yang diakibatkan kebakaran hutan di Indonesia. Ketika SBY dengan sigapnya meminta maaf atas masalah tersebut, JK malah menyerang balik. Waktu itu JK datang ke Malaysia untuk menghadiri ulang tahun emas negeri jiran itu, JK didesak banyak pihak disana untuk meminta maaf mengenai hal serupa. Namun apa yang dikatakan JK justru meng'skak-mat' Malaysia. Kata beliau, mengapa Malaysia sibuk menuntut Indonesia menyatakan permohonan maaf atas pengiriman asap yang hanya sebulan dirasakan Malaysia, sementara Malaysia tidak pernah menyatakan rasa terima kasih atas udara segar dari hutan" Indonesia yang dirasakan selama sebelas bulan sisanya.

Aku termenung beberapa saat setelah membaca bagian ini. Cerita bagian ini cukup mengajarkanku untuk selalu melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Berpikir out of the box. Jangan berorientasi negatif, tapi di dalam kejadian negatif, pasti tersisip hal positif.

Sangat banyak lagi cerita" hidup JK yang menurutku tidak biasa, berbeda dan semakin menjelaskan bahwa JK berkarakter (menurut buku ini-dan aku lagi" tidak tahu faktanya). Walaupun banyak pihak menyatakan bahwa karakter beliau tidak akan pernah sukses di ranah politik 'judge the book by the cover' yang terjadi di Indonesia, paling tidak JK mengajarkanku bagaimana beraksi dan bereaksi secara efektif dan manusiawi.

Oke, sedikit ceritaku tentang JK. mudah2an anda juga menyukai beliau. Sayang beliau belum sempat menjadi presiden, sehingga kita belum bisa menilai bagaimana sejatinya beliau. Tapi hingga saat ini, aku cukup mengagumi JK. Mudah2an aja beliau bisa menjadi presiden di masa mendatang, sehingga aku bisa mengkoreksi pandanganku tentangnya.

"Saya tidak takut dengan kekalahan. Tapi, saya tidak mau jadi orang yang kalah. Itu dua hal yang berbeda. Saya ingi menang dengan membuat strategi yang lain.."-Jusuf Kalla

2 comments

Ane setuju banget deh gan, Salut kepada JK yang masih tetap mau mengabdi bagi bangsa