Thursday, May 5, 2011

Cerpen - Posma Roham ( Jangan Khawatir )

Malam semakin kelam, satu setengah jam menuju pergantian hari. Udara dingin mulai menikam kulit mereka yang berani-beraninya menantang malam. Di saat banyak orang sudah terlelap dalam mimpi yang indah, bersetubuh dengan kasur kapuk yang nyaman tiada tara, melepas lelah setelah beraktivitas seharian, tempat ini malah masih ramai, walau tidak seramai 3 jam yang lalu. Pembeli berlalu lalang, membeli kebutuhan hidup seminggu ke depan. Ada yang membeli sembako, peralatan dapur, perlengkapan mandi sampai pakaian untuk kerja. Pedagang sibuk menawarkan barang dagangannya. Ada mimik-mimik kebahagian setelah proses negosiasi berjalan sukses, tampak mereka mengekspresikan rasa syukur  terhadap-Nya. Tapi tak sedikit yang tertawa dalam kekecewaan, bahkan sampai memaki dalam hati, saat tawar-menawar membentur tembok karena pembeli ngotot dengan tawaran yang tak berperasaan, sementara penjual yang lelah malah jadi mudah tersulut emosinya.



Hari senin memang selalu ada pekan di Martebing ini, sekali seminggu. Pedagang dari kota datang membawa barang-barang yang dibutuhkan penduduk setempat. Biasanya mereka tiba menjelang magrib. Sementara proses jual-beli akan berlangsung dari pukul tujuh hingga pukul sebelas malam, puncak pembelian ada pada kisaran pukul delapan hingga pukul sembilan. Memang harus demikianlah, sebab pada siang hari penduduk mesti bekerja di perkebunan milik Negara yang merupakan sumber penghasilan mereka, walaupun sebagian ada juga yang bekerja untuk perkebunan swasta di sekitarnya. Selain dari Martebing ini, banyak juga penduduk kampung lain yang berbelanja, sebab kampung mereka belum beruntung menggelar pekanan layak ini.

Tepat sejam sebelum pergantian hari, suasana pekan sudah sepi dari pembeli, tinggal penjual saja yang sibuk membereskan dagangannya. Sebagian ada juga yang sekedar berbagi cerita dengan kawan-kawan seperjuangannya.

“Nungga boha jualan mi eda? Godang do lakku? ” ( Sudah gimana jualanmu bu? Banyaknya yang terjual? )

“Lumayan do eda, adong do saotik. Basa do Tuhan i.” ( Lumayanlah Bu, ada sedikit. Tuhan itu mahabaik. )

“Ido nian eda, ale ndang songon biasana, songon na otik do borngin on. Ale tong do ikkon nidok mauliate tu debata.” (Iya sih Bu, tapi ga seperti biasanya, agak sedikit malam ini. Tapi tetap kita harus bersyukur pada Tuhan. )

“Nungga ngali hian bah, tutup ma hita. Ndang adong be jolma na ro. Akhir bulan songon on memang maol do parngoluan.” ( Sudah dingin sekali, tutup sajalah kita. Sudah tidak ada lagi pembeli yang datang. Memang di akhir bulan seperti ini sangat susah kehidupan. )

“Olo eda, au pe nungga ngalian. Songgon na lao udan nian, hita pahatop ma.” ( Iya Bu, aku juga sudah kedinginan. Sepertinya mau hujan lagi, kita percepatlah.)

“Ido nian, dakdanak pe asi roha di jabu, nungga sanga modom, ale ni gugai lao mambukka pintu. Hape marsogot ikkon marsiajar do muse di sikkolana.” (Iya ya, anak-anak pun kasihan di rumah, sudah sempat tidur eh malah dibangunin lagi untuk membuka pintu. Padahal besoknya harus ke sekolah.) Ibu batak berparas keras itu berjalan ke arah dimana ada banyak bapak-bapak duduk disana, bercengkrama bersama minuman yang mereka guyonkan dengan sebutan susu batak.

“ Pak, eta. Songon na soadong be panuhor.” ( Pak, ayo ! Sepertinya sudah tidak ada lagi pembeli.)
Pak Lilis, lelaki paruh baya yang sedari tadi duduk di kedai tuak bersama suami-suami pedagang lain itu, menjatuhkan rokok kreteknya, lalu menginjak-injaknya hingga baranya mati. Mengambil gelas yang masih berisi hampir separuh cairan putih itu, meneguknya dalam sekali pergumulan dengan bibir gelas. Setengah berlari ia menghampiri istrinya. Dan mulai memasukkan pakaian-pakaian bekas itu ke karung goni untuk dibawa kembali ke kota.

“Pahatop pak, naeng ro udan!” ( Cepat pak, dah mau hujan ! ) Mak Lilis yang sudah berkepala empat itu mempercepat pekerjaannya. Suaminya juga ikut bergegas cepat.

Lelaki itu menghampiri pick-upnya, lalu mengkondisikan mobil butut yang telah berumur senja itu agar pakaian-pakaian bekas dalam karung goni besar itu mudah diangkut ke atasnya. Bersama istri, ia mengangkatnya. Kedua manusia pekerja keras itu menarik nafas panjang, mengumpulkan tenaga dan memusatkannya dikedua lengannya. Bagai pendekar di kartun-kartun Jepang, dengan sekali hentakan , berpindahlah karung goni itu ke atas pick up. Tampak ekspresi kelelahan setelah memaksa mengeluarkan energi di luar kemampuan sewajarnya. Si istri tersenyum kepada suami yang tampak sangat lelah, betapa tidak, hampir semua beban tadi ditimpahkan padanya. Bagai sumber kekuatan dari surga, si suami mencoba merasa lebih kuat, ia lanjutkan mengangkat 3 karung goni yang lain, tetap dengan bantuan istri.
Pedagang yang menumpang menaikkan goni-goninya ke pick-up itu. Pak Lilis membantu mereka yang sudah tak kuat menanggung beban berat, apalagi Ompung Dame yang sudah renta, yang harus berperang melawan usia yang sudah semena-mena. Lalu perjalan pulang pun dimulai. Oppung Dame dan Mak Lilis ada di depan disamping supir. Sementara pedagang lain - ada 3 orang, seorang pria lajang dan 2 orang ibu yang hampir tua, yang satu seorang janda - yang juga menumpang, duduk diatas tumpukan goni-goni beratapkan langit mendung. Tapi belum ada tanda-tanda bahwa akan turun hujan. Mudah-mudahan saja tidak.

“Martangiang ma ho Mak Eka, asa unang ro udan ni.” ( Berdoalah Mak Eka, biar jangan turun hujan! ) Teriak Mak Lilis supaya Mak Eka-ibu janda tanpa anak dengan 2 tanggungan yaitu anak adik laki-lakinya yang telah wafat setelah ditinggal pergi istrinya-yang duduk dibelakang mendengarnya.

“Nungga diboto Tuhan i pangidoanta, sai dilehon ma i.” (Sudah diketahui Tuhan keinginan kita, semoga dikabulkan. ) Mak Eka tersenyum memaksa, bibirnya kelu kedinginan, tampak jelas keragu-raguan akan percobaannya mengoptimiskan diri bahwa hujan tak akan turun.

“ Mak Lilis, nungga boha tae kabar ni anakta na sikkola di jawa i?” ( Mak Lilis, bagaimana kabar anak kita yang kuliah di Jawa itu? ) Mungkin dengan membicarakan hal lain Mak Eka bisa melupakan kekhawatiran akan datangnya butir-butir cair dari langit itu.

“Sehat do nian, sataon nae sae na ma sikkola na i. Tangiangkon ma asa hatop imana hasea. Asa boi manarihon akka anggi-anggina na di jabu an.” ( Sehat, setahun lagi selesai kuliahnya. Doakanlah biar cepat dia berhasil. Biar bisa dibantunya adik-adiknya yang di rumah sana. )

“Sai di bege Tuhan i mai Mak Lilis.” ( Semoga di dengar Tuhanlah itu Mak Lilis. )

Sejam kemudian tinggallah Pak Lilis dan Mak Lilis dalam keramaian gelap. Mereka  yang menumpang telah diantarkan ke tempatnya masing-masing. Mak Lilis tertidur dalam duduknya. Ia sangat lelah dan kedinginan. Jaket berlapis selimut rasanya masih kurang untuk menghangatkannya. Goresan keriput di pipinya tidak linear dengan usianya. Ia tampak lebih tua. Debu bercampur keringat dan minyak kulit bagai make-up yang justru memperjeleknya.  Sesekali sang suami memandang istrinya, tersenyum sendiri, betapa kagumnya ia pada istirnya yang sangat tegar dan pekerja keras itu. Sambil menyetir, Pak Lilis mengelus-elus rambut istrinya. Sekejap, istrinya terbangun, tersenyum tulus. Mak Lilis sadar bahwa ia tak boleh tidur, ia harus menemani suaminya agar tak mengantuk saat menyetir.

” Sogot tu dia ma hita Pak?” ( Besok kemanalah kita pak?)

“Biasana ari selasa ndang adong onan ta.” (Biasanya hari selasa kita ga pekanan.)

“Ido nian, alai porlu hian hepeng lao manggarar biaya kuliah ni si Dion, pak!” (Iya sih pak, tapi kita perlu duit untuk membayar biaya kuliah si Dion, Pak! )

“Anggo songon i, maronan pe hita sogot tu Gunung Pamela, rame do inna akka jolma i disan.” ( Kalau begitu, pekanan pun besok kita ke Gunung Pamela, ramenya kata orang disana. ) Mak Lilis diam saja, pikirannya sudah pergi jauh kesana, Pulau Jawa, tempat anaknya menimba ilmu. Dalam hati, ia berdoa untuk kesuksesan anaknya disana. Anak yang begitu ia banggakan, yang ia perjuangkan. Kepadanyalah ia gantungkan masa depan kedua adiknya.

Pak Lilis menghentikan laju mobil, kemudian ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan telepon genggam yang bergetar mengganggu konsentrasi menyetirnya. Ada tertulis Dion di sana.

“Halo amang, aha kabar disan? Sehat do ho amang?” ( Halo nak, apa kabarmu disana? Sehatnya kau nak? )

“Sehat do pak, maronan do hamu? Boha kabarni bapak, omak, kakak dohot adek-adek disi?” (Sehatnya Pak. Pekanannya kalian? Gimana kabar bapak, mamak, kakak sama adik-adik disana?)

“Sehat do sude. Songon dia hepengmu amang? Adong dope balatjomu disan?” (Sehatnya semua. Gimana uangmu? Masih ada untuk makanmu kan?)

Mak Lilis yang menyadari kalau itu adalah telepon dari anaknya menjadi senang,. Anakku pasti tahu bahwa aku sedang memikirkannya, batinnya. Ia mendekatkan telinganya, mendengarkan suara anak tercinta. Jelas sekali sekarang Mak Lilis lebih girang. Pak Lilis yang menyadari tingkah istrinya, mengalah, menahan rasa rindu kepada anaknya yang sudah 3 tahun tidak berjumpa.

“Amang, omak do on. Sehat do ho amang?” (Nak, ini mamak. Sehatnya kau nak?)

“Sehat do mak. Maksudtu nian manelepon bapak dohot omak, aturanna kan hepeng kiriman ni omak sahat tu habis ni bulan on do kan, alai hupakke manuhor bukku dohot alat-alat praktikum, gabe saotik nae na ma hepeng i. Hepeng lao manggarar kuliah semester pitu pe, kirim hamu ma ake omak? Asa sahali mangirim hamu, unang repot.” (Sehatnya Mak. Tujuanku menelepon bapak sama mamak, seharusnya uang kiriman kemarin kan sampai akhir bulan ini, tapi aku pakai membeli buku sama alat-alat praktikum, jadi tinggal sisa sedikit uang itu. Uang untuk membayar kuliah semester tujuh pun, kirimlah ya mak. Biar sekali kirim, jadi ga repot.)

“O, songon i do amang. Pos roham amang, ndang bahen okku ho marsikkor disan, hukirim pe marsogot. Tangiangkon ma dilehon Tuhan passarian di hita.” ( O, begitu nak. Tenanglah nak, ga akan aku biarkan kamuu menderita disana, kukirim pun besok. Doakanlah diberi Tuhan rejeki buat kita.)

“Olo mak, hutangiakkon do torus hamu disan. Apalagi omak.” ( Iya mak, kudoakannya terus kalian disana. Apalagi mamak.)

“Tuani ma amang.” ( Baguslah nak. )

“Songon i ma ake omak, lao belajar na ma au. Godang tugashu.” ( Gitulah ya mak, mau belajar lagi aku. Banyak tugasku.)

“Olo amang, unang lupa mangan ho da amang. Sotung marsahit ala lupa mangan. Tu aha malo anggo marsahit-sahit do.” ( Iya nak, jangan lupa makan ya nak. Jangan sampai sakit karena lupa makan. Untuk apa pintar kalau penyakitan.)

“Olo mak, pos ma roham.” ( Iya mak, jangan khawatir.)

Telepon itu pun terputus. Si istri mengembalikan handphone kepada suami. Suasana sekarang lebih hangat. Mak Lilis tampak sangat gembira setelah mengobrol sejenak dengan anaknya. Pak Lilis menerimanya, lalu melanjutkan perjalanan.

“Huutangi pe marsogot sian koperasi di sikkola, asa adong kirimon tu si Dion.” ( Kupinjam pun besok dari koperasi sekolah, biar ada kita kirim ke si Dion.) Pak Lilis yang merupakan PNS guru di salah satu SMP negeri di kotanya memberi solusi saat istrinya tiba-tiba diam, dan lelaki itu tau persis apa yang dipikirkan istrinya.

“Alai utang na tikki i ndang hita garar dope pak?” ( Tapi utang kita waktu itu kan belum kita bayar pak?)

“Boi do i mak, sai di lehon Tuhan do dalan tu akka naporsea.” ( Bisanya itu mak, diberi Tuhannya jalan untuk mereka yang percaya kepada-Nya. )

Si istri membisu, ia larut dalam cabang-cabang pikirannya. Tetapi masih ada ketegaran dalam keriput wajahnya. Ketulusan cintanya kepada anaknya. Kerelaannya bekerja keras untuk menyekolahkan anaknya. Keoptimisannya memenangkan perlawanan terhadap nasib. Semuanya jelas terlihat dalam senyum getirnya. Pak lilis kemudian mengelus rambut istrinya. Menunjukkan bagaimana bangganya ia memiliki istri yang benar-benar ditelapak kakinya ada surga. Si istri mencium tangan suaminya. Perempuan berhati malaikat, atau mungkin ia malah benar-benar malaikat, memandang ke depan, depan paling depan, paling ujung, sampai batas terakhir, dilihatnya ada anaknya disana, berkostum wisuda dan tersenyum bahagia.

                                                    ********************************

Lelaki bertampang preman itu menyelipkan sesuatu di saku kemeja pria berkaca mata minus di sebelahnya. Kemudian ia berlalu sambil berbisik, “ setengah gram terakhir!”.

Pria berkacamata minus tersenyum lega. Ikut beranjak dari tempat itu. Kemudian ia mengeluarkan handphonenya, ada satu sms masuk.

Itu barang terakhir yang bisa loe terima.
Bayar utang loe yang udah menumpuk, baru loe dapat jatah lagi.

Pria berkacamata minus tersenyum pahit, kemudian ia membalas.
Tenang bos, besok kiriman dari bokap-nyokap datang.

Kemudian dibalas.
Aku tagih besok bacot loe Dion !!
                                                                                                   Yogyakarta, 16 November 2009
cat:
Ini hanyalah cerita fiktif yang aku buat untuk memagari hidupku di perantauan.
Ambil makna yang ingin aku bagikan.

2 comments

permisi, kakak aku numpang tanya ... itu beasiswanya yg utk S1 itu d pruntukan utk yg freshman baru lulus SMA atau sdh kuliah brp smester d PTN yg d tunjuk?? mohon bimbingannya kak

Nusuk banget bang (-_-).. Jadi kangen sama mamak-bapak di Gunung Pamela :')